Pilih ADRO atau AADI? Analisis Lengkap Pasca IPO Anak Usaha Adaro
Dengan AADI resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 5 Desember 2024 dan harga saham ADRO yang turun drastis pasca spin-off, mari kita bedah secara komprehensif: mana yang lebih menguntungkan untuk portofolio Anda?
Latar Belakang: Spin-Off Besar-Besaran ADRO
PT Adaro Energy Indonesia (kini berganti nama menjadi PT Alamtri Resources Indonesia) melakukan pemisahan bisnis pertambangan batubara termalnya melalui spin-off AADI. Ini bukan sekadar aksi korporasi biasa—ini adalah restrukturisasi fundamental yang mengubah DNA perusahaan.
Fakta Kunci Spin-Off:
- AADI menawarkan 778,68 juta saham (10% dari total) dengan harga IPO Rp 5.550 per saham
- Total dana yang dihimpun mencapai Rp 4,31 triliun
- ADRO membagikan dividen jumbo Rp 1.345 per saham atau dividend yield 34%
- Setelah spin-off, ADRO fokus pada energi terbarukan dan hilirisasi mineral
- AADI fokus pada pertambangan batubara termal
Profil ADRO: Transformasi Menuju Green Energy
Visi Baru ADRO
Pasca melepas AADI, ADRO bertransformasi dari raja batubara menjadi pemain energi hijau. Strategi ini sejalan dengan tren global menuju net-zero emission dan memberikan akses lebih mudah ke green financing.
Pilar Bisnis ADRO Pasca Spin-Off:
- Energi Terbarukan: Fokus pada pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan energi hijau lainnya
- Hilirisasi Mineral: Pengembangan smelter aluminium yang ditargetkan rampung 2025
- Ekspor Listrik: Rencana ekspor listrik ke Singapura mulai 2027-2028
- Mining Non-Coal: Melalui PT Adaro Minerals Indonesia (ADMR)
Kinerja Finansial ADRO Setelah Spin-Off
Melepas AADI tentu berdampak signifikan pada laporan keuangan ADRO. Berdasarkan simulasi annualized 2024:
- Laba Bersih Per Saham: Rp 275 (turun drastis dari sebelumnya)
- Price to Earning (PE): 13,5 kali (di atas rata-rata historis 9,1 kali)
- Price to Book Value (PBV): 0,99 kali (mendekati rata-rata historis 0,95 kali)
- Harga Wajar Estimasi: Rp 2.506 - Rp 3.535 per saham
Risiko & Peluang ADRO
Peluang: ✅ Akses lebih mudah ke green financing dengan cost of capital lebih rendah ✅ Partnership dengan mitra strategis untuk proyek-proyek hijau ✅ Valuasi bisa re-rating jika proyek energi terbarukan berhasil ✅ Dividen jumbo untuk kompensasi penurunan harga saham
Risiko: ⚠️ Kehilangan sumber pendapatan utama dari batubara termal ⚠️ PE ratio menjadi mahal dibanding historis ⚠️ Proyek energi terbarukan belum proven menghasilkan profit setara batubara ⚠️ Timeline proyek masih panjang (2025-2028)
Profil AADI: Pure Play Batubara Termal
Model Bisnis AADI
AADI adalah holding company pertambangan batubara termal dengan 7 aset pertambangan yang tersebar di Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Tengah. Lima aset sudah beroperasi, dua masih dalam tahap pengembangan.
Anak Usaha Utama:
- PT Adaro Indonesia (AI): Aset terbesar dengan brand Envirocoal
- PT Laskar Semesta Alam (LSA): Konsesi di Kalimantan Selatan
- PT Semesta Centramas (SCM): Konsesi di Kalimantan Selatan
- PT Paramitha Cipta Sarana (PCS): Konsesi di Kalimantan Selatan
- PT Mustika Indah Permai (MIP): Konsesi di Sumatera Selatan
- PT Maritim Barito Perkasa (MBP): Logistik dan pengangkutan laut
Kinerja Operasional AADI
Produksi & Penjualan (Per Juni 2024):
- Produksi: 32,74 juta ton batubara termal
- Penjualan Domestik: 8,13 juta metrik ton
- Penjualan Internasional: 24,29 juta metrik ton
- Total Penjualan: 33,31 juta ton
Pasar Ekspor Utama:
- China
- India
- Korea
- Singapura
Kinerja Finansial AADI
Tahun 2023:
- Laba Bersih: US$ 1,28 miliar (turun 45% YoY dari US$ 2,34 miliar)
Semester I 2024:
- Laba Bersih: US$ 922,76 juta (naik 15% YoY dari US$ 804,75 juta)
Rasio Keuangan (H1 2024):
- Net Profit Margin (NPM): 35%
- Return on Equity (ROE): 68%
- Return on Assets (ROA): 34%
- Debt to Asset Ratio (DAR): 0,50x (sehat)
- Debt to Equity Ratio (DER): 1x (sehat)
Valuasi AADI
Dengan harga IPO Rp 5.550 per saham:
- PE Ratio: 4-5 kali (jauh di bawah rata-rata industri batubara 6-7 kali)
- Market Cap Estimasi: Rp 43,21 triliun
- Potensi Dividen: Maksimal 45% dari laba bersih mulai 2025
Beberapa analis bahkan menyebut valuasi AADI terlalu rendah (undervalue), memberikan ruang untuk capital gain ketika mulai diperdagangkan di bursa.
Risiko & Peluang AADI
Peluang: ✅ Valuasi murah dibanding kompetitor (PE 4-5x vs industri 6-7x) ✅ Pure play di batubara dengan kinerja operasional solid ✅ Track record Garibaldi "Boy" Thohir di saham ADMR, SRTG, ESSA yang bagus ✅ Komitmen dividen maksimal 45% dari laba bersih ✅ China dan India masih butuh batubara untuk industrialisasi
Risiko: ⚠️ Ketergantungan tinggi pada harga batubara global (volatilitas harga) ⚠️ Transisi energi global bisa menekan demand batubara jangka panjang ⚠️ Risiko operasional pertambangan (kecelakaan, bencana alam) ⚠️ Perubahan regulasi pemerintah terkait DMO, pajak, royalti ⚠️ Mayoritas dana IPO untuk bayar utang (kurang berdampak ke ekspansi)
Perbandingan Head-to-Head: ADRO vs AADI
1. Dari Segi Valuasi
| Aspek | ADRO | AADI |
|---|---|---|
| PE Ratio | 13,5x (mahal vs historis) | 4-5x (murah vs industri) |
| PBV | 0,99x (fair) | Belum diperdagangkan |
| Dividend Yield | 34% (one-time jumbo) | Estimasi reguler 45% dari laba |
| Harga Saat Ini | Rp 1.885 (turun 50% dari Nov) | Rp 5.550 (harga IPO) |
Kesimpulan Valuasi: AADI lebih murah dan menarik dari segi valuasi fundamental. ADRO terlihat overvalued pasca spin-off.
2. Dari Segi Prospek Bisnis
ADRO: High Risk, High Reward
- Potensi re-rating jika proyek green energy berhasil (seperti kasus BREN)
- Timeline panjang (2025-2028) untuk realisasi proyek
- Belum ada track record profit dari energi terbarukan
- Cocok untuk investor yang percaya pada transisi energi hijau
AADI: Stable, Proven Business Model
- Bisnis batubara masih menguntungkan dalam jangka menengah
- Demand dari Asia (China, India) masih kuat
- Kinerja operasional sudah terbukti solid
- Cocok untuk value investor yang cari valuasi murah
3. Dari Segi Dividen
ADRO:
- Dividen jumbo Rp 1.345 per saham (one-time)
- Dividend yield 34% (luar biasa tinggi)
- Namun harga saham turun 50% pasca ex-date
- Net result: investor rugi jika hanya mengejar dividen
AADI:
- Komitmen dividen reguler maksimal 45% dari laba bersih mulai 2025
- Lebih sustainable untuk income investor
- Yield tergantung kinerja dan harga saham
Kesimpulan Dividen: AADI lebih menarik untuk income investor jangka panjang. Dividen ADRO hanya kompensasi sekali.
4. Dari Segi Likuiditas & Trading
ADRO:
- Sudah lama diperdagangkan, likuiditas tinggi
- Free float besar
- Volatilitas tinggi pasca spin-off
AADI:
- Baru IPO, initial trading bisa sangat volatil
- Free float terbatas (hanya 10% dari IPO)
- Harga bisa naik signifikan jika demand tinggi (momentum IPO)
5. Dari Segi Risiko ESG (Environmental, Social, Governance)
ADRO:
- Fokus pada green energy = ESG-friendly
- Menarik untuk institutional investor yang punya ESG mandate
- Cocok untuk investor yang concern dengan climate change
AADI:
- Bisnis batubara = tekanan ESG tinggi
- Bisa dikucilkan oleh institutional investor tertentu
- Cocok untuk investor yang pragmatis dan fokus pada return
Apa Kata Analis?
Stockbit Sekuritas
"Penurunan harga saham ADRO sesuai prediksi kami. Pada skenario base case, ADRO bisa turun ke level Rp 1.900 per saham dengan valuasi 6,6x PE. Penurunan ini dapat terkompensasi sebagian, seluruhnya, atau melebihi dari potensi kenaikan AADI sesuai rasio kepemilikan."
Mirae Asset Sekuritas
"Valuasi AADI saat ini (4-5x PE) lebih rendah dibanding rata-rata industri batubara (6-7x PE). Jika valuasi tetap di bawah pasar, investor dapat melihat peluang capital gain saat saham mulai diperdagangkan di bursa."
MNC Sekuritas
"Koreksi ADRO didorong ex-date dividen. Sulit menilai wajar atau tidak karena harga cenderung price-in dengan nilai dividen."
Strategi Investasi: Mana yang Harus Dipilih?
Profil Investor 1: Value Investor Konservatif
Rekomendasi: AADI
Jika Anda mencari:
- Valuasi murah dengan margin of safety tinggi
- Bisnis proven dengan cash flow stabil
- Dividen reguler yang sustainable
- Exposure ke commodity play
Strategi:
- Beli AADI di harga IPO atau sedikit di atas IPO
- Target PE 6-7x (sejalan industri) = upside 40-75%
- Hold untuk dividen reguler
- Exit jika PE sudah di atas 8x atau ada perubahan fundamental industri batubara
Profil Investor 2: Growth Investor Agresif
Rekomendasi: ADRO
Jika Anda mencari:
- Exposure ke megatrend energi terbarukan
- Potensi re-rating valuasi seperti BREN
- Tidak masalah dengan volatilitas tinggi
- Horizon investasi 3-5 tahun
Strategi:
- Tunggu harga ADRO stabil di Rp 1.900-2.000
- Beli bertahap dengan averaging down
- Pantau progress proyek PLTA dan smelter aluminium
- Target PBV 1,5-2x jika proyek berhasil = upside 100-200%
- Set cut loss jika proyek gagal atau tertunda
Profil Investor 3: Balanced Investor
Rekomendasi: KEDUA-DUANYA (Diversifikasi)
Jika Anda ingin:
- Hedge risk antara old energy vs new energy
- Dapat dividen dari AADI sambil tunggu ADRO grow
- Tidak mau all-in di satu sektor
Strategi:
- Alokasi 60% AADI : 40% ADRO (atau sebaliknya sesuai risk appetite)
- AADI untuk income & stability
- ADRO untuk growth & capital appreciation
- Rebalancing setiap 6-12 bulan
Profil Investor 4: Income/Dividend Hunter
Rekomendasi: AADI (untuk jangka panjang)
Jika Anda fokus pada:
- Passive income dari dividen
- Cash flow reguler
- Tidak peduli capital gain
Strategi:
- Beli AADI dan hold long-term
- Reinvest dividen untuk compound return
- Pantau dividend payout ratio tetap di 40-45%
- Monitor agar DER tidak terlalu tinggi (di bawah 1,5x)
Skenario "What If": Simulasi 3 Tahun ke Depan
Skenario Optimis
ADRO:
- Proyek PLTA dan smelter sukses 2025-2026
- Partnership strategis untuk green energy secured
- Ekspor listrik ke Singapura on track 2027
- Harga Target 2027: Rp 4.000-5.000 (upside 150-200%)
AADI:
- Harga batubara stabil di US$ 100-120/ton
- Produksi naik 10% per tahun
- Dividen yield konsisten 8-10%
- Harga Target 2027: Rp 8.000-9.000 (upside 45-60%)
Skenario Base Case
ADRO:
- Proyek berjalan tapi delayed
- Green financing secured tapi terbatas
- Harga Target 2027: Rp 2.500-3.000 (upside 30-50%)
AADI:
- Harga batubara fluktuatif US$ 80-100/ton
- Produksi flat sampai slight growth
- Dividen yield 6-8%
- Harga Target 2027: Rp 6.500-7.000 (upside 17-26%)
Skenario Pesimis
ADRO:
- Proyek tertunda atau over budget
- Green financing sulit didapat
- Harga Target 2027: Rp 1.500-1.800 (downside 5-20%)
AADI:
- Harga batubara crash di bawah US$ 70/ton
- Regulasi DMO lebih ketat
- Harga Target 2027: Rp 4.000-5.000 (downside 10-27%)
Pertimbangan Makro yang Perlu Diperhatikan
Faktor Global
- Transisi Energi: Semakin cepat dunia transisi ke renewable energy, semakin bagus untuk ADRO, semakin buruk untuk AADI
- Kebijakan Climate Change: Paris Agreement, Net Zero 2050 → tekanan besar untuk batubara
- Harga Komoditas: Inflasi global, supply chain → impact ke harga batubara
- Pertumbuhan China & India: Masih butuh batubara untuk industrialisasi → support AADI
Faktor Domestik
- Kebijakan Energi Pemerintah: Target renewable energy 23% di 2025
- DMO (Domestic Market Obligation): Regulasi batubara untuk domestik bisa lebih ketat
- Pajak & Royalti: Pemerintah bisa naikkan pajak batubara untuk transisi energi
- Infrastruktur: Proyek IKN, infrastruktur → demand listrik naik
Kesalahan Fatal yang Harus Dihindari
❌ Kesalahan 1: Mengejar Dividen ADRO Tanpa Hitung Risk-Reward
Banyak investor terjebak membeli ADRO hanya karena dividen 34%. Padahal harga saham sudah turun 50%. Jika hitung-hitungan:
- Dapat dividen Rp 1.345
- Harga beli Rp 3.770, sekarang Rp 1.885
- Rugi capital loss: Rp 1.885 (kerugian unrealized masih Rp 540 per saham)
Net result: RUGI meski dapat dividen jumbo.
❌ Kesalahan 2: FOMO Beli AADI di Harga Puncak Saat IPO
IPO saham bisa sangat volatile di hari pertama. Jika AADI melesat 50% di hari pertama ke Rp 8.000-9.000, jangan FOMO. Tunggu koreksi setelah euphoria mereda. Biasanya ada window untuk masuk di harga lebih rendah 2-4 minggu setelah IPO.
❌ Kesalahan 3: All-In di Satu Saham
Diversifikasi tetap penting. Jangan taruh semua telur di satu keranjang. Batubara atau renewable energy sama-sama punya risiko tinggi.
❌ Kesalahan 4: Tidak Set Cut Loss
Baik ADRO maupun AADI punya risiko signifikan. Tentukan cut loss level sebelum masuk:
- ADRO: Cut loss jika proyek gagal atau harga di bawah Rp 1.500
- AADI: Cut loss jika harga batubara turun di bawah US$ 60/ton atau harga saham di bawah Rp 4.000
❌ Kesalahan 5: Ignore Faktor ESG
Institutional investor besar (pension fund, sovereign wealth fund) mulai blacklist saham batubara. Ini bisa membatasi upside AADI jangka panjang karena demand terbatas.
Rekomendasi Final: Mana yang Lebih Baik?
Tidak ada jawaban mutlak "ADRO atau AADI lebih baik". Semua tergantung profil risiko, horizon investasi, dan conviction Anda terhadap masing-masing sektor.
Pilih ADRO Jika:
✅ Percaya pada transisi energi hijau ✅ Horizon investasi 3-5 tahun ✅ Siap dengan volatilitas tinggi ✅ Punya conviction terhadap eksekusi Boy Thohir di green energy ✅ Risk appetite tinggi (growth investor)
Pilih AADI Jika:
✅ Mencari valuasi murah dengan margin of safety ✅ Income investor yang butuh dividen reguler ✅ Percaya batubara masih relevan 5-10 tahun ke depan ✅ Risk appetite moderat (value investor) ✅ Tidak concern dengan isu ESG
Pilih Keduanya Jika:
✅ Ingin diversifikasi exposure energy sector ✅ Balanced portfolio dengan income + growth ✅ Tidak yakin mana yang akan outperform ✅ Risk management dengan hedging
Kesimpulan
Spin-off AADI dari ADRO adalah momen bersejarah di industri pertambangan Indonesia. Bagi investor, ini bukan sekadar pilihan saham—tapi pilihan filosofi investasi: old energy vs new energy, value vs growth, stability vs volatility.
Yang jelas, keputusan harus berbasis analisis fundamental yang solid, bukan FOMO atau hype. Lakukan riset mendalam, pahami risk-reward, dan sesuaikan dengan profil investasi Anda.
Ingat: Market bisa irrational dalam jangka pendek, tapi selalu rational dalam jangka panjang. Pilih berdasarkan conviction, bukan emosi.
Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif dan analisis, bukan rekomendasi beli/jual. Setiap keputusan investasi adalah tanggung jawab pribadi. Selalu lakukan riset sendiri (DYOR - Do Your Own Research) dan konsultasikan dengan financial advisor jika perlu.
Sumber Data:
- Prospektus IPO AADI
- Laporan keuangan ADRO & AADI
- Riset analis Stockbit, Mirae Asset, MNC Sekuritas
- Data perdagangan BEI November-Desember 2024
Terakhir diupdate: Desember 2024

Posting Komentar untuk "Pilih ADRO atau AADI? Analisis Lengkap Pasca IPO Anak Usaha Adaro"