Analisis Saham ADRO 2025: Dividen Yield 93% Tapi Turun 50%, Worth It?
Artikel ini akan membedah secara mendalam fundamental ADRO pasca transformasi dari raja batubara menjadi pemain energi terbarukan. Dengan analisis komprehensif mulai dari kinerja keuangan, valuasi, hingga proyeksi 2026, Anda akan mendapatkan gambaran lengkap untuk mengambil keputusan investasi yang tepat.
Profil Perusahaan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk
PT Alamtri Resources Indonesia Tbk, yang sebelumnya dikenal sebagai PT Adaro Energy Indonesia Tbk, resmi berganti nama pada November 2024 sebagai bagian dari transformasi strategis perusahaan. Rebranding ini bukan sekadar perubahan nama, melainkan cerminan dari perubahan fundamental model bisnis—dari perusahaan batubara menuju konglomerat energi hijau.
Sejarah Singkat
ADRO didirikan pada tahun 1991 dan melakukan IPO di Bursa Efek Indonesia pada Juli 2008 dengan kode saham ADRO. Selama lebih dari dua dekade, perusahaan ini dikenal sebagai salah satu produsen batubara termal terbesar di Indonesia dengan konsesi tambang di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.
Namun, seiring dengan tren global menuju energi bersih dan tekanan regulasi terhadap industri fosil, ADRO mengambil langkah berani: melakukan spin-off bisnis batubara termalnya ke anak usaha PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) yang melantai di BEI pada 5 Desember 2024.
Model Bisnis Pasca Spin-Off
Setelah melepas AADI, struktur bisnis ADRO kini terdiri dari empat pilar utama:
1. Energi (73,26% dari revenue)
- Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) melalui Adaro Power
- Target: 3 proyek PLTA dengan kapasitas total 3 GW selesai pada 2030
- Rencana ekspor listrik ke Singapura mulai 2027-2028
- Fokus pada renewable energy untuk mendapatkan green financing
2. Air (16,58% dari revenue)
- Pengelolaan dan distribusi air bersih melalui Adaro Water
- Melayani kawasan industri dan residensial
- Kontrak jangka panjang dengan BUMN dan swasta
3. Logistik (5,50% dari revenue)
- Jasa transportasi laut dan darat melalui Adaro Logistics
- Fleet kapal untuk mendukung distribusi komoditas
- Infrastruktur pelabuhan dan dermaga
4. Pelabuhan (4,67% dari revenue)
- Operasional pelabuhan khusus untuk kargo curah
- Fasilitas bongkar muat di beberapa lokasi strategis
Transformasi ke Green Energy
ADRO tidak sekadar melepas bisnis batubara, tetapi secara aktif berinvestasi di sektor energi terbarukan dengan strategi jangka panjang:
- Smelter Aluminium: Proyek smelter aluminium di Kalimantan Utara dengan kapasitas 500.000 ton per tahun, ditargetkan rampung 2025
- PLTA: Pengembangan 3 pembangkit listrik tenaga air dengan total investasi US$ 3-4 miliar
- Hilirisasi Mineral: Melalui anak usaha PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) yang fokus pada batubara metalurgi dan pengolahan mineral
Transformasi ini sejalan dengan komitmen Indonesia untuk mencapai net-zero emission pada 2060 dan membuat ADRO lebih menarik bagi investor institusional yang memiliki Environmental, Social, and Governance (ESG) mandate.
Kepemilikan Saham
Struktur kepemilikan ADRO pasca spin-off (per Desember 2024):
- Publik: 30,02%
- Grup Saratoga (Theodore Rachmat dkk): 20,15%
- Garibaldi "Boy" Thohir dan keluarga: 12,48%
- Institusi asing: 37,35%
Mayoritas saham ADRO dimiliki oleh investor institusional dan strategic investors, yang menunjukkan kepercayaan tinggi terhadap prospek jangka panjang perusahaan.
Revenue & Profit Analysis
Kinerja keuangan ADRO di tahun 2024 mencerminkan masa transisi perusahaan. Berdasarkan laporan keuangan kuartal III 2024, pendapatan usaha ADRO menyusut 10,6% year-on-year dari US$ 4,98 miliar menjadi US$ 4,45 miliar. Mari kita bedah lebih detail.
Breakdown Revenue Q3 2024
Total revenue ADRO periode Januari-September 2024 mencapai US$ 4,45 miliar dengan komposisi:
- Penjualan batubara ekspor kepada pihak ketiga: US$ 3,48 miliar (78,2%)
- Penjualan batubara domestik kepada pihak ketiga: US$ 751,73 juta (16,9%)
- Penjualan batubara domestik kepada pihak berelasi: US$ 162,24 juta (3,6%)
- Pendapatan lain-lain: US$ 52,47 juta (1,2%)
Penurunan revenue ini terutama disebabkan oleh:
- Harga batubara global yang terkoreksi dari puncaknya di 2022-2023
- Volume produksi yang sedikit menurun akibat cuaca buruk di Kalimantan
- Penjualan ADMR ke induk perusahaan yang mengurangi kontribusi revenue
Profitabilitas
ADRO membukukan laba bersih pada Quarter 3 2024 sebesar Rp 17,91 triliun, menurun dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2023 sebesar Rp 18,92 triliun. Meski laba turun, margin profitabilitas masih sangat sehat:
Margin Profitabilitas Q3 2024:
- Gross Margin: 39,5% (stabil dibanding Q3 2023: 38,9%)
- EBITDA Margin: 39,8% (naik dari Q3 2023: 37,9%)
- Net Margin: 26,6% (turun dari Q3 2023: 28,1%)
Margin yang tetap tinggi menunjukkan bahwa ADRO masih sangat efisien dalam operasionalnya meski menghadapi tekanan harga komoditas. Beban pokok pendapatan turun dari US$ 2,99 miliar menjadi US$ 2,69 miliar, beban usaha juga turun 23,2% YoY menjadi US$ 255,06 juta dan beban keuangan melandai 12,38% YoY menjadi US$ 71,34 juta.
Proyeksi Full Year 2024
Berdasarkan annualized data Q3 2024, proyeksi kinerja full year 2024:
- Revenue: US$ 5,93 miliar (Rp 94,26 triliun)
- Laba Bersih: US$ 2,39 miliar (Rp 37,97 triliun)
- EPS (Earnings Per Share): Rp 1.231 per saham
Namun, proyeksi ini masih termasuk kontribusi dari AADI. Setelah spin-off, annualized earnings ADRO akan turun drastis menjadi sekitar Rp 275 per saham, atau turun 66% dari tahun 2023.
Perbandingan dengan Kompetitor
Untuk konteks, mari bandingkan dengan kompetitor di sektor batubara:
| Emiten | Revenue (Rp T) | Laba Bersih (Rp T) | Net Margin (%) |
|---|---|---|---|
| ADRO (full) | 94,26 | 37,97 | 26,6 |
| PTBA | 41,40 | 5,55 | 13,4 |
| ITMG | 36,60 | 4,80 | 13,1 |
| AADI | 84,63 | 20,80 | 24,6 |
ADRO (termasuk AADI) masih merupakan pemain terbesar di industri batubara Indonesia dari segi revenue dan laba. Namun, setelah spin-off AADI, kontribusi revenue dari bisnis non-batubara menjadi sangat kecil dan ADRO harus membuktikan bahwa bisnis green energy-nya bisa profitable.
Outlook Revenue 2025-2026
Tantangan terbesar ADRO adalah bagaimana menggantikan revenue stream dari AADI dengan bisnis green energy yang masih dalam tahap pengembangan. Beberapa katalis yang bisa mendorong pertumbuhan revenue:
- Smelter Aluminium: Jika proyek selesai 2025, bisa kontribusi revenue US$ 500-700 juta per tahun
- PLTA: Jika 1-2 proyek rampung 2026-2027, bisa kontribusi US$ 200-300 juta per tahun
- Ekspor Listrik ke Singapura: Jika deal secured, potensi revenue US$ 100-150 juta per tahun mulai 2028
Namun, semua ini masih dalam tahap "jika". Risk eksekusi sangat tinggi mengingat proyek infrastruktur energi skala besar seringkali mengalami delay dan cost overrun.
Debt to Equity Ratio (DER)
Salah satu keunggulan paling menonjol dari ADRO adalah struktur permodalan yang sangat sehat. Debt to Equity Ratio (DER) ADRO hanya 14,09%, jauh di bawah rata-rata industri energi yang berkisar 30-50%.
Breakdown Utang dan Ekuitas
Total Debt: Rp 17,3 triliun Total Equity: Rp 55,1 triliun (pasca spin-off dengan asumsi tambahan modal disetor dari IPO AADI) DER: 0,14x atau 14%
Untuk perspektif, ini adalah salah satu DER terendah di antara emiten energi besar di Indonesia:
| Emiten | DER | Kategori |
|---|---|---|
| ADRO | 0,14x | Sangat Sehat |
| PTBA | 1,00x | Sehat |
| ITMG | 0,35x | Sangat Sehat |
| MEDC | 0,82x | Sehat |
| INDY | 1,45x | Moderat |
DER yang rendah memberikan ADRO fleksibilitas keuangan yang sangat besar untuk:
- Berinvestasi di proyek-proyek baru tanpa perlu menambah utang signifikan
- Mempertahankan dividen policy yang investor-friendly
- Menghadapi siklus turun harga komoditas dengan risiko default yang minim
Interest Coverage Ratio
Dengan beban keuangan (interest expense) sebesar US$ 71,34 juta dan EBITDA sekitar US$ 2,37 miliar, Interest Coverage Ratio ADRO mencapai 33,2x. Artinya, EBITDA ADRO bisa menutupi beban bunga sebanyak 33 kali—jauh di atas standar sehat minimal 3x.
Credit Rating
Meski ADRO tidak memiliki credit rating dari lembaga internasional seperti Moody's atau S&P, struktur utang yang sangat konservatif ini memberikan confidence bahwa perusahaan memiliki creditworthiness yang tinggi. Ini akan memudahkan ADRO untuk mendapatkan:
- Green financing dengan bunga rendah untuk proyek energi terbarukan
- Project financing untuk smelter aluminium dan PLTA
- Bond issuance jika diperlukan untuk ekspansi
Implikasi untuk Investor
DER yang sangat rendah adalah double-edged sword:
Positif:
- Risiko kebangkrutan sangat rendah, bahkan di skenario worst-case
- Kemampuan bayar dividen terjaga meski profit turun
- Fleksibilitas tinggi untuk M&A atau investasi strategis
Negatif:
- Return on Equity (ROE) bisa lebih rendah karena tidak memanfaatkan leverage
- Potensi growth lebih lambat dibanding kompetitor yang lebih agresif menggunakan debt financing
Untuk investor konservatif yang prioritas adalah capital preservation dan dividend income, DER rendah ADRO adalah nilai plus besar. Namun untuk growth investor yang mencari multibagger returns, struktur modal yang terlalu konservatif bisa jadi limitasi.
Valuasi Saham ADRO
Setelah penurunan drastis harga saham, valuasi ADRO kini berada di level yang menarik—setidaknya dari segi angka. Namun, apakah ini truly undervalued atau value trap? Mari kita analisis.
Harga Saham Terkini
Harga per 3 Desember 2024: Rp 1.885 All-Time High (November 2024): Rp 4.300 Penurunan dari ATH: -56,16% Market Capitalization: Rp 58,2 triliun
Penurunan drastis ini terjadi dalam waktu singkat—hanya satu bulan sejak RUPSLB yang memutuskan spin-off AADI dan pembagian dividen jumbo. Investor yang membeli di puncak mengalami paper loss lebih dari 50% meski sudah dapat dividen Rp 1.345 per saham.
Support & Resistance Levels
Support kuat: Rp 1.800 - Rp 1.900 (zona buyback yang diumumkan manajemen sekitar Rp 2.000) Resistance: Rp 2.500 - Rp 2.700 (zona fair value menurut beberapa analis) Target harga 12 bulan: Rp 2.500 - Rp 3.500 (tergantung eksekusi proyek green energy)
Historical Valuation
ADRO secara historis selalu trading dengan discount dibanding kompetitor seperti PTBA dan ITMG karena:
- Struktur kepemilikan yang kompleks (holding company Saratoga)
- Exposure besar ke batubara thermal yang dianggap "sunset industry"
- Corporate governance yang kadang dipertanyakan (related party transactions)
Namun, pasca transformasi ke green energy, ada kemungkinan re-rating valuasi jika eksekusi proyek berhasil—mirip seperti kasus PT Barito Renewables Energy (BREN) yang valuasinya melonjak setelah fokus ke renewable energy.
Fair Value Calculation
Menurut Tim Analis Bareksa, jika menggunakan asumsi EV/EBITDA 2x, maka ADRO memiliki nilai wajar di Rp 1.575 per saham dan kalau menggunakan asumsi PE 5x dari setiap anak usaha, maka ADRO punya nilai wajar di Rp 2.020 per saham.
Mari kita hitung sendiri dengan beberapa metode:
Metode 1: PE Band 5 Tahun
- Rata-rata PE Band 5 Tahun ADRO ada di 9,1 kali, dengan laba bersih per saham Rp 275, maka harga wajar ada di Rp 2.506 per saham
- Fair Value: Rp 2.506
- Upside dari harga saat ini (Rp 1.885): +33%
Metode 2: PBV Band 5 Tahun
- PBV Band rata-rata 5 tahun ada di 0,95 kali dengan book value Rp 3.722, maka harga wajar Rp 3.535 per saham
- Fair Value: Rp 3.535
- Upside dari harga saat ini: +87,5%
Metode 3: Sum-of-the-Parts (SOTP)
- Nilai ADMR (batubara metalurgi): Rp 18 triliun (kontribusi ke ADRO: 60% = Rp 10,8 triliun)
- Nilai bisnis energi & infrastruktur: Rp 25-30 triliun
- Nilai proyek green energy (NPV): US$ 1,1-1,5 miliar = Rp 17-24 triliun
- Total Enterprise Value: Rp 52-65 triliun
- Equity Value (setelah kurangi net debt): Rp 50-63 triliun
- Fair Value per saham: Rp 1.620 - Rp 2.042
Skenario Valuation 2026
Bull Case (Green Energy Success):
- Smelter aluminium operasional 2025, kontribusi laba Rp 3-4 triliun
- 1 PLTA selesai 2026, kontribusi laba Rp 1-2 triliun
- Re-rating valuasi ke PBV 1,5x (seperti BREN)
- Target Price: Rp 4.500 - Rp 5.000 (upside 140-165%)
Base Case (Gradual Transition):
- Proyek delay 1-2 tahun tapi tetap on track
- Laba stabil di Rp 8-10 triliun per tahun
- PE 9-10x (historis)
- Target Price: Rp 2.500 - Rp 3.000 (upside 30-60%)
Bear Case (Execution Risk):
- Proyek green energy gagal atau sangat delayed
- Harga batubara turun, impact ke ADMR
- Multiple compression ke PE 6-7x
- Target Price: Rp 1.500 - Rp 1.800 (downside 0-20%)
Untuk analisis mendalam tentang strategi investasi saham energi, baca juga: Panduan Lengkap Investasi Saham Sektor Energi 2025
PER vs Industri Average
Price-to-Earnings Ratio (PER) adalah metrik valuasi yang paling umum digunakan untuk menilai apakah suatu saham mahal atau murah. Mari kita bedah PER ADRO dan bandingkan dengan industri.
PER ADRO Pasca Spin-Off
Dengan simulasi spin-off AADI, laba bersih ADRO sepanjang tahun 2024 (secara annualized) akan menjadi Rp 275 per saham. Dengan harga per 18 November 2024, tingkat Price to Earning Ratio (PE) menjadi 13,5 kali.
Perhitungan:
- Harga saham: Rp 3.710 (sebelum turun lebih lanjut)
- EPS pasca spin-off: Rp 275
- PER: 3.710 / 275 = 13,5x
Dengan harga terkini Rp 1.885:
- PER: 1.885 / 275 = 6,85x
Perbandingan dengan Industri
Mari bandingkan PER ADRO dengan kompetitor di sektor yang sama:
| Emiten | PER (Nov 2024) | Kategori Bisnis | Catatan |
|---|---|---|---|
| ADRO | 6,85x | Green Energy Transition | Pasca spin-off |
| PTBA | 5,72x | Batubara | BUMN, solid fundamental |
| ITMG | 5,56x | Batubara | Fokus ekspor |
| AADI | 2,96x | Batubara | Baru IPO, undervalued |
| BREN | 25,4x | Renewable Energy | Premium valuation |
| ADMR | 15,8x | Batubara Metalurgi | Growth stock |
| Rata-rata Batubara | 4,74x | - | Exclude ADRO |
| Rata-rata Renewable | 22-25x | - | Global average |
Interpretasi PER ADRO
Apakah PER 6,85x itu murah atau mahal?
Argumen "Murah":
- PER di bawah PE historis ADRO (9,1x) → discount 25%
- Jika dibandingkan dengan renewable energy stocks (22-25x), ADRO sangat undervalued
- PER growth stock biasanya 15-20x, ADRO masih jauh di bawah itu
Argumen "Mahal":
- PER ADRO 4,92 kali hingga Selasa (12/11/2024) sebelum spin-off, sekarang naik jadi 6,85x → premium 39%
- PER ADRO lebih tinggi dibanding pure play coal stocks (PTBA 5,72x, ITMG 5,56x)
- Bisnis green energy ADRO masih dalam tahap development, belum proven profitable
Forward PER 2025-2026
Yang lebih penting adalah forward PER, yaitu PER berdasarkan proyeksi laba masa depan:
Skenario Optimis (Green Energy Takeoff):
- Proyeksi EPS 2026: Rp 450 per saham (smelter aluminium + PLTA contribute)
- Harga saat ini: Rp 1.885
- Forward PER: 4,2x → SANGAT MURAH
Skenario Base Case:
- Proyeksi EPS 2026: Rp 300 per saham (growth moderat)
- Forward PER: 6,3x → Fair/Murah
Skenario Pesimis:
- Proyeksi EPS 2026: Rp 200 per saham (proyek delay, laba turun)
- Forward PER: 9,4x → Fair/Mahal
PER vs PEG Ratio
PEG Ratio (PER dibagi dengan growth rate) adalah metrik yang lebih komprehensif:
Formula: PEG = PER / Earnings Growth Rate (%)
Perhitungan ADRO:
- PER: 6,85x
- Projected earnings growth 2024-2026: 30% CAGR (jika proyek berhasil)
- PEG Ratio: 6,85 / 30 = 0,23
PEG ratio di bawah 1 umumnya dianggap undervalued. Dengan PEG 0,23, ADRO secara teoritis sangat murah IF earnings growth 30% CAGR bisa terealisasi. Namun, ini adalah big "IF" mengingat execution risk yang tinggi.
Kesimpulan PER Analysis
PER ADRO saat ini (6,85x) berada di grey area:
- Lebih murah dari PE historis (9,1x) → Discount 25%
- Lebih mahal dari pure coal stocks (4,7x avg) → Premium 45%
- Jauh lebih murah dari renewable energy stocks (22x avg) → Discount 70%
Rekomendasi:
- Untuk value investor: PER 6,85x dengan DER 14% dan dividend yield tinggi adalah menarik, terutama jika percaya eksekusi proyek green energy
- Untuk growth investor: Tunggu konfirmasi progress proyek dulu sebelum masuk, karena PER bisa terlihat mahal jika earnings stagnan atau turun
- Untuk dividend hunter: PER tidak terlalu penting, fokus pada sustainability dividen policy (lihat bagian Dividend Yield & Track Record)
Ingin tahu lebih dalam tentang cara menghitung valuasi saham? Baca: Panduan Lengkap Menghitung PER, PBV, dan ROE
PBV Analysis
Price-to-Book Value (PBV) adalah metrik valuasi yang membandingkan harga pasar saham dengan nilai buku (book value) per saham. PBV sangat berguna untuk menilai perusahaan dengan aset fisik yang besar seperti ADRO.
PBV ADRO Saat Ini
Dari segi Price to Book Value (PBV), ADRO dengan simulasi spin-off AADI menjadi sebesar 0,99 kali.
Perhitungan:
- Harga saham: Rp 1.885
- Book Value per Share: Rp 1.900
- PBV: 1.885 / 1.900 = 0,99x
Ini berarti investor membayar harga yang hampir sama dengan nilai buku perusahaan. Secara teori, jika PBV < 1, saham dianggap undervalued karena investor membayar lebih murah dari nilai aset bersihnya.
Breakdown Book Value
Mari kita bongkar apa saja yang masuk dalam book value ADRO pasca spin-off:
Total Ekuitas (Q3 2024): Rp 55,1 triliun
Terdiri dari:
-
Aset Tetap (PP&E - Property, Plant & Equipment):
- Konsesi tambang ADMR
- Pembangkit listrik dan infrastruktur energi
- Proyek PLTA dalam pengembangan
- Smelter aluminium (work in progress)
- Kapal dan alat berat
- Total PP&E: ~Rp 28 triliun
-
Investasi di Anak Usaha:
- 60% saham ADMR (Adaro Minerals) → Market value ~Rp 10,8 triliun
- Kepemilikan di perusahaan energi lainnya
- Total investasi: ~Rp 15 triliun
-
Kas dan Setara Kas: ~Rp 8 triliun
-
Aset Lancar Lainnya: ~Rp 4 triliun
Total Aset: ~Rp 72 triliun Dikurangi Total Liabilitas: ~Rp 17 triliun Ekuitas Bersih: ~Rp 55 triliun
Dengan 30,84 miliar lembar saham beredar: Book Value per Share: 55.000 miliar / 30,84 miliar = Rp 1.784
(Angka sedikit berbeda dengan laporan resmi karena ada penyesuaian akuntansi)
PBV vs Industri
Bandingkan PBV ADRO dengan kompetitor:
| Emiten | PBV (Nov 2024) | Interpretation |
|---|---|---|
| ADRO | 0,99x | Fair/Undervalued |
| PTBA | 1,57x | Fair |
| ITMG | 1,11x | Fair/Undervalued |
| AADI | 1,17x | Undervalued |
| BREN | 4,2x | Overvalued (premium) |
| ADMR | 2,1x | Fair |
| Avg Batubara | 1,28x | - |
| Avg Renewable | 3-4x | - |
Insight:
- PBV ADRO (0,99x) lebih rendah dari rata-rata industri batubara (1,28x) → Discount 23%
- PBV ADRO 1,03 kali hingga Selasa (12/11/2024), sekarang turun jadi 0,99x → Semakin murah
- Jauh lebih murah dari renewable energy stocks (3-4x) → Discount 70%
PBV Band 5 Tahun
PBV Band rata-rata 5 tahun ADRO ada di 0,95 kali. Ini berarti PBV saat ini (0,99x) sedikit di atas rata-rata historis (+4%), yang menunjukkan valuasi fair berdasarkan historical mean.
Historical PBV Range:
- PBV Terendah (Covid-19 crash 2020): 0,45x
- PBV Tertinggi (Commodity boom 2022): 1,8x
- Rata-rata 5 tahun: 0,95x
- Median: 0,92x
Current Position: PBV 0,99x berada di middle band, tidak ekstrem murah atau mahal.

Posting Komentar untuk "Analisis Saham ADRO 2025: Dividen Yield 93% Tapi Turun 50%, Worth It?"