15 Saham Dividen Yield Tertinggi 2026: Passive Income 10%+ Per Tahun

Siapa sih yang tidak mau dapat uang masuk ke rekening setiap tahun tanpa harus kerja ekstra? Itulah daya tarik utama dari investasi saham dividen. Bayangkan, kamu beli saham sekali, lalu setiap tahun dapat pembagian keuntungan dari perusahaan. Seperti punya mesin ATM pribadi, tapi legal dan dijamin aman oleh Otoritas Jasa Keuangan.

Di tahun 2026, banyak saham Indonesia yang menawarkan dividen yield lebih dari sepuluh persen per tahun. Ini artinya, kalau kamu investasi seratus juta rupiah, kamu bisa dapat passive income lebih dari sepuluh juta rupiah per tahun. Lumayan banget kan buat tambah uang jajan atau bahkan buat biaya hidup?

Artikel ini akan membahas lengkap tentang saham-saham dengan dividen yield tertinggi di Indonesia untuk tahun 2026, lengkap dengan analisis sektor, risiko, dan strategi investasinya. Yuk, kita mulai dari dasar dulu supaya semua orang paham.

Apa Itu Dividen dan Dividen Yield?

Sebelum lanjut ke daftar sahamnya, kita perlu paham dulu apa itu dividen. Dividen adalah bagian dari keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham. Jadi kalau perusahaan untung besar, mereka bisa bagi-bagi ke investor yang punya sahamnya.

Sedangkan dividen yield adalah persentase hasil dividen dibandingkan dengan harga saham saat ini. Misalnya, harga saham sebuah perusahaan adalah seribu rupiah per lembar, dan mereka bagi dividen seratus rupiah per lembar. Maka dividen yield-nya adalah sepuluh persen. Semakin tinggi yield-nya, semakin besar passive income yang kamu dapat.

Yang perlu kamu ingat, dividen yield tinggi bisa terjadi karena dua hal. Pertama, perusahaan memang bagi dividen besar karena untungnya gede. Kedua, harga sahamnya lagi turun, jadi secara matematis yield-nya jadi tinggi. Makanya, kita harus hati-hati dan nggak cuma lihat angka yield doang.

Sektor-Sektor dengan Dividen Yield Tertinggi di Indonesia

Berdasarkan riset terkini, ada beberapa sektor yang secara konsisten memberikan dividen yield tinggi di Indonesia. Mari kita bahas satu per satu.

Sektor Pertambangan Batu Bara

Sektor batu bara adalah juaranya dividen yield di Indonesia. Perusahaan seperti Indo Tambangraya Megah, Bukit Asam, dan Adaro Andalan Indonesia secara historis memberikan dividen dengan yield mencapai sepuluh hingga lima belas persen per tahun.

Kenapa sektor batu bara bisa bagi dividen segede itu? Karena bisnis pertambangan menghasilkan uang tunai yang sangat besar ketika harga komoditas sedang tinggi. Mereka tidak perlu banyak reinvestasi seperti perusahaan teknologi, jadi kebanyakan keuntungan bisa dibagikan ke pemegang saham.

Indo Tambangraya Megah atau yang dikenal dengan kode saham ITMG adalah salah satu yang paling royal. Bahkan mereka rutin membagikan dividen dua kali dalam setahun, interim dan final. Untuk proyeksi tahun buku dua ribu dua puluh lima yang akan dibagikan di dua ribu dua puluh enam, ITMG diperkirakan memberikan yield sekitar sepuluh persen lebih.

Bukit Asam dengan kode PTBA juga menarik perhatian. Sebagai perusahaan pelat merah di bawah naungan MIND ID yang kini bagian dari Danantara, mereka diperkirakan akan tetap membagikan dividen tinggi untuk mendukung pendanaan holding. Proyeksi yield untuk PTBA bisa mencapai enam hingga sepuluh persen tergantung kinerja mereka di tahun ini.

Namun ada yang perlu kamu waspadai dari sektor ini. Harga batu bara sangat fluktuatif dan dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global. Kalau harga batu bara turun drastis, otomatis dividen tahun depannya juga bisa turun. Jadi sektor ini cocok untuk investor yang sudah siap dengan volatilitas.

Sektor Perbankan

Bank-bank besar Indonesia seperti Bank Rakyat Indonesia, Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia, dan Bank Central Asia juga terkenal sebagai pembagi dividen yang konsisten. Yield dividen dari sektor perbankan biasanya berada di kisaran enam hingga sembilan persen.

BBRI atau Bank Rakyat Indonesia adalah yang paling menarik perhatian. Mereka bahkan sudah memberikan sinyal akan membagikan dividen interim di Januari dua ribu dua puluh enam, seperti tradisi mereka setiap tahun. Total dividen yield BBRI untuk tahun buku dua ribu dua puluh lima diperkirakan bisa mencapai delapan hingga sembilan persen.

Bank Mandiri dengan kode BMRI juga tidak kalah. Mereka telah meningkatkan payout ratio atau rasio pembagian dividen menjadi tujuh puluh delapan persen, naik dari enam puluh persen tahun sebelumnya. Ini menunjukkan komitmen manajemen untuk memberikan nilai lebih ke pemegang saham.

Yang menarik dari sektor perbankan adalah stabilitasnya. Bank-bank besar ini memiliki fundamental yang kuat dengan Capital Adequacy Ratio yang tinggi. Artinya, modal mereka lebih dari cukup untuk operasional, sehingga aman untuk membagikan dividen besar.

Namun, sektor perbankan juga punya tantangan. Di tahun dua ribu dua puluh lima, ada tekanan likuiditas dan perlambatan pertumbuhan kredit. Tapi para analis memperkirakan situasi akan membaik di dua ribu dua puluh enam seiring dengan penurunan suku bunga dan injeksi likuiditas dari pemerintah.

Sektor Perkebunan Sawit

Triputra Agro Persada atau TAPG adalah bintang di sektor ini. Mereka memberikan dividen yield yang sangat menarik, bisa mencapai sembilan hingga sepuluh persen. Kinerja cemerlang TAPG didukung oleh harga CPO atau crude palm oil yang masih tinggi.

Yang membuat TAPG menarik adalah payout ratio mereka yang sangat tinggi, bisa mencapai delapan puluh hingga sembilan puluh persen. Artinya, hampir semua keuntungan mereka dibagikan ke pemegang saham. Ini sangat menguntungkan buat investor yang mencari passive income maksimal.

Selain itu, TAPG juga sedang melakukan diversifikasi bisnis dengan membuat perusahaan patungan untuk produksi biokokas dari cangkang sawit. Ini bisa menjadi sumber pendapatan baru yang menjanjikan di masa depan.

Sektor Properti Industrial

Puradelta Lestari atau DMAS adalah emiten properti industrial yang juga terkenal royal membagikan dividen. Mereka fokus pada bisnis kawasan industri dan data center, yang sedang booming di Indonesia.

DMAS pernah memberikan dividen yield lebih dari enam belas persen. Meskipun ada penurunan kinerja karena berakhirnya kontrak dengan Microsoft, mereka sudah mendapatkan klien baru seperti STT GDC Indonesia yang juga bergerak di bidang data center.

Sektor Infrastruktur dan Konsumen

Saham-saham seperti Perusahaan Gas Negara atau PGAS, AKR Corporindo atau AKRA, dan Unilever Indonesia atau UNVR juga menawarkan dividen yield yang menarik di kisaran tujuh hingga sepuluh persen.

Yang membuat sektor ini menarik adalah harga sahamnya yang relatif murah saat ini. Jadi kalau mereka tetap membagikan dividen seperti tahun-tahun sebelumnya, yield yang didapat investor bisa sangat tinggi.

Daftar Lima Belas Saham Dividen Yield Tertinggi 2026

Berdasarkan riset dan proyeksi dari berbagai analis, berikut adalah lima belas saham dengan potensi dividen yield tertinggi untuk tahun dua ribu dua puluh enam:

Pertama, Indo Tambangraya Megah atau ITMG. Proyeksi yield sekitar sepuluh hingga dua belas persen. Perusahaan batu bara ini terkenal dengan dividen jumbo dan konsistensi pembayaran dua kali setahun.

Kedua, Adaro Andalan Indonesia atau AADI. Sebagai hasil spin-off dari ADRO, emiten ini diperkirakan memberikan yield sekitar sepuluh persen. Ini adalah dividen perdana mereka setelah IPO tahun lalu.

Ketiga, Baramulti Suksessarana atau BSSR. Emiten batu bara yang paling rajin membagikan dividen, bisa sampai tiga hingga empat kali setahun. Yield proyeksi mencapai sembilan hingga sepuluh persen.

Keempat, Triputra Agro Persada atau TAPG. Raja dividen dari sektor sawit dengan yield proyeksi delapan hingga sembilan persen. Payout ratio mereka sangat tinggi hingga sembilan puluh persen.

Kelima, Bank Rakyat Indonesia atau BBRI. Yield proyeksi delapan hingga sembilan persen dengan pembagian dividen interim di Januari dan final setelah RUPS.

Keenam, Bank Mandiri atau BMRI. Proyeksi yield sekitar delapan hingga sembilan persen dengan payout ratio yang terus meningkat.

Ketujuh, Bank Negara Indonesia atau BBNI. Yield proyeksi tujuh hingga delapan persen dengan komitmen menjaga payout ratio di lima puluh persen.

Kedelapan, Bukit Asam atau PTBA. Emiten batu bara pelat merah dengan yield proyeksi enam hingga sepuluh persen tergantung kebijakan payout mereka.

Kesembilan, Perusahaan Gas Negara atau PGAS. Yield proyeksi tujuh hingga sepuluh persen dari sektor infrastruktur energi.

Kesepuluh, Puradelta Lestari atau DMAS. Properti industrial dengan yield proyeksi tujuh hingga sepuluh persen.

Kesebelas, AKR Corporindo atau AKRA. Perusahaan distribusi BBM dan logistik dengan yield proyeksi delapan persen lebih.

Keduabelas, United Tractors atau UNTR. Konglomerat alat berat dengan yield proyeksi delapan persen.

Ketigabelas, Telkom Indonesia atau TLKM. BUMN telekomunikasi dengan yield stabil di kisaran tujuh persen.

Keempatbelas, Unilever Indonesia atau UNVR. Saham defensif dari sektor consumer goods dengan yield tujuh hingga sepuluh persen.

Kelimabelas, Alamtri Resources atau ADRO. Meskipun sudah spin-off bisnis batu bara termal, ADRO masih menawarkan yield menarik sekitar empat hingga lima persen dari bisnis batu bara kokas.

Strategi Investasi Saham Dividen 2026

Setelah tahu daftar sahamnya, sekarang kita bahas strategi investasi yang tepat supaya kamu bisa maksimalkan passive income dari dividen.

Diversifikasi Antar Sektor

Jangan taruh semua telur di satu keranjang. Kalau kamu cuma beli saham batu bara semua, begitu harga komoditas turun, portofolio kamu bisa hancur. Lebih baik bagi ke beberapa sektor. Misalnya, tiga puluh persen di batu bara, tiga puluh persen di perbankan, dua puluh persen di sawit, dan dua puluh persen di sektor defensif seperti consumer goods atau infrastruktur.

Perhatikan Payout Ratio

Payout ratio adalah persentase laba bersih yang dibagikan sebagai dividen. Payout ratio yang terlalu tinggi, misalnya di atas sembilan puluh persen, bisa jadi red flag. Artinya perusahaan tidak menyisakan banyak uang untuk investasi atau pengembangan bisnis.

Sebaliknya, payout ratio yang terlalu rendah juga kurang menarik buat dividend investor. Idealnya cari yang di kisaran lima puluh hingga tujuh puluh persen. Ini menunjukkan keseimbangan antara memberi nilai ke pemegang saham dan reinvestasi untuk pertumbuhan.

Beli Saat Harga Turun

Salah satu strategi jitu adalah beli saham dividen ketika harganya sedang turun. Kenapa? Karena yield dividen akan jadi lebih tinggi. Misalnya, dividen per saham tetap seratus rupiah, tapi harga saham turun dari seribu jadi delapan ratus. Yield kamu naik dari sepuluh persen jadi dua belas setengah persen.

Banyak saham dividen bagus yang harganya lagi turun di akhir tahun dua ribu dua puluh lima. Ini bisa jadi momentum bagus untuk masuk. Tapi pastikan penurunan harga bukan karena fundamental perusahaan yang rusak, ya.

Dollar Cost Averaging

Kalau kamu tidak yakin kapan waktu yang tepat untuk beli, gunakan strategi dollar cost averaging. Ini artinya kamu beli saham secara rutin dengan nominal yang sama setiap bulan atau setiap kuartal, tidak peduli harganya naik atau turun.

Dengan cara ini, kamu bisa dapat harga rata-rata yang lebih baik dan mengurangi risiko salah timing. Misalnya, alokasikan lima ratus ribu sampai satu juta rupiah setiap bulan untuk beli saham dividen pilihan kamu.

Reinvestasi Dividen

Kalau kamu belum butuh passive income sekarang, pertimbangkan untuk reinvestasi dividen yang kamu terima. Gunakan uang dividen untuk beli saham lagi. Dengan cara ini, efek compounding atau bunga berbunga akan bekerja untuk kamu.

Bayangkan, kamu investasi seratus juta dengan yield sepuluh persen. Tahun pertama dapat dividen sepuluh juta, lalu kamu pakai buat beli saham lagi. Tahun kedua, modalmu jadi seratus sepuluh juta, dapat dividen sebelas juta. Begitu terus, dalam sepuluh tahun uang kamu bisa berlipat ganda.

Risiko yang Perlu Diwaspadai

Tidak ada investasi yang tanpa risiko. Berikut beberapa risiko utama dari investasi saham dividen yang perlu kamu waspadai.

Risiko Penurunan Dividen

Perusahaan bisa memutuskan untuk menurunkan atau bahkan tidak membagikan dividen kalau kinerja mereka jelek. Ini sering terjadi di sektor siklikal seperti batu bara ketika harga komoditas turun drastis.

Risiko Harga Saham Turun

Dividen yield tinggi kadang justru jadi jebakan. Harga saham turun drastis karena fundamental perusahaan rusak, dan yield jadi tinggi karena pembagi yang kecil. Akhirnya, meskipun dapat dividen lumayan, nilai investasi kamu tetap turun karena harga saham anjlok.

Risiko Sektor

Setiap sektor punya risikonya sendiri. Batu bara punya risiko transisi energi dan fluktuasi harga komoditas. Perbankan punya risiko kredit macet dan likuiditas. Sawit punya risiko cuaca dan harga CPO. Makanya diversifikasi itu penting.

Risiko Pajak

Dividen di Indonesia dikenakan pajak final sepuluh persen. Jadi kalau kamu dapat dividen satu juta, yang masuk ke rekening cuma sembilan ratus ribu. Ini sudah otomatis dipotong, jadi kamu tidak perlu repot lapor pajak lagi. Tapi tetap harus diperhitungkan dalam kalkulasi return kamu.

Kapan Waktu Terbaik Beli Saham Dividen?

Timing adalah segalanya dalam investasi. Untuk saham dividen, ada beberapa waktu yang strategis untuk masuk.

Setelah Ex-Dividend Date

Harga saham biasanya turun setelah tanggal ex-dividen, yaitu tanggal terakhir untuk berhak dapat dividen. Penurunan ini biasanya sekitar sebesar dividen yang dibagikan. Ini bisa jadi waktu yang bagus untuk beli karena kamu dapat harga lebih murah untuk dividen tahun depan.

Akhir Tahun

Banyak investor institusi melakukan rebalancing portofolio di akhir tahun. Ini kadang menciptakan tekanan jual ke saham-saham tertentu. Kamu bisa manfaatkan momen ini untuk beli saham dividen berkualitas dengan harga diskon.

Saat Pasar Koreksi

Ketika pasar saham secara keseluruhan turun karena sentimen negatif, saham-saham dividen berkualitas ikut tertekan. Ini adalah kesempatan emas untuk akumulasi. Warren Buffett bilang, "Be greedy when others are fearful." Berani beli saat orang lain takut.

Kesimpulan

Investasi saham dividen adalah salah satu cara terbaik untuk membangun passive income yang stabil dan berkelanjutan. Dengan memilih saham-saham berkualitas dari berbagai sektor, kamu bisa mendapatkan yield sepuluh persen lebih per tahun, sambil tetap punya potensi capital gain dari kenaikan harga saham.

Lima belas saham yang sudah kita bahas tadi adalah pilihan terbaik untuk tahun dua ribu dua puluh enam berdasarkan analisis fundamental, historis pembagian dividen, dan proyeksi kinerja. Tapi ingat, riset sendiri tetap penting. Jangan cuma ikut-ikutan atau tergiur yield tinggi tanpa memahami bisnisnya.

Mulailah dengan modal kecil kalau kamu pemula. Alokasikan sebagian dari penghasilan bulanan untuk rutin beli saham dividen pilihan kamu. Diversifikasi ke beberapa sektor supaya risiko lebih terkendali. Dan yang paling penting, bersabar. Investasi dividen ini bukan strategi cepat kaya, tapi strategi slow and steady untuk membangun kekayaan jangka panjang.

Selamat berinvestasi dan semoga passive income kamu mengalir deras di tahun dua ribu dua puluh enam!


Disclaimer: Artikel ini hanya untuk tujuan edukasi dan bukan rekomendasi investasi. Selalu lakukan riset sendiri dan konsultasikan dengan penasihat keuangan sebelum membuat keputusan investasi. Investasi saham mengandung risiko dan kamu bisa kehilangan sebagian atau seluruh modal investasi.

Posting Komentar untuk "15 Saham Dividen Yield Tertinggi 2026: Passive Income 10%+ Per Tahun"